Aku, tanpamu

0

Sebait larik yang tak terusik menjelma menjadi bait tuk berkelit. Kiranya kata mampu ubah tuk ungkapkan sebuah cerita yang nyatanya tak seperti yang dirasa. Alasan pembenar diabaikan tuk sebuah jelmaan pemaaf. Tak berdasar! Hanya tangis yang di buat ego hingga sebuah ucap berucap tanpa sirat, tercucur keji dalam isapan buai belaka. Sengaja tertulis ungkap sayang, namun rindu tak beresudahan tak mampu hinggapi naluri yang akan di raihnya. Rupa-rupanya sayap itu telah hilang bersama tenggelamnya senja di ufuk barat. Namun sayap itu tetap saja sayapku. Namun rindu itu tetap saja rinduku. Namun angan itu, tetap saja menjadi anganku.
Aku merindumu MATAHARI….
Kau Permadi!
Kau Permadiku!
Adakah yang tau? Ketika Srikandi menyulut kobaran tungku rindu yang membuncah, siratkan sekam namun tak tau dimana kau rimbanya. Takkah kau terima pesan itu? Takkah kau rasa gundah itu? Malam pekat merindumu. Bulan, bintang kian ambigu tercekat kilau rasaku. Matahari, Permadiku…. Adakah disana kebohongan yang menutupi? Menyelimuti kabut tak terurus yang terbendung terbawa hujan. Badaimu! Pisahkan matahari dengan aku. Permadi, matahariku… Bawa serta hujan, angin, awan, mendung serta badaimu… Jangan halangi aku dengan matahariku. Jangan bawa pergi panasku. Jangan kau redupkan hariku.
Permadi, matahariku…
Akankah seorang sephia mampu menjadi jelmaan dirimu. Akankah dia mampu menjadi kamu? Matahari, permadiku… Sampai kapan rasa itu tetap kamu? Higga sephia dan pujangga tak mampu menggantimu, menutupi rasa yang selama ini tak terurus tentangmu? Matahari, permadiku… Akankah hujan selimuti kabut rinduku hingga rasa itu tak sampai padamu? Akankah kau meragu akan tulusku? Masihkah ada aku di harimu? Masihkah aku di pikirmu? Masihkah ada kita dalam kenangmu?
Ku harap Tuhan mampu memberitahumu tentang rasaku, tentang rinduku agar tak selamanya tersapu…
Dan sekali lagi, aku merindumu…
Dipelukmu, seperti ini… Saat itu, hanya kau – aku dan kenangan tentang kita

(Diiringi hujan gerimis di kotaku, menyulut amarah merindumu)
Menjemput awal Februari, kenangan tentangmu selalu terpatri

Advertisements

Kerling sesaatmu

0

Aku pernah memiliki mata itu. Aku pernah jatuh cinta pada binar tatap mata itu. Aku pernah ada dalam mata itu meski sejenak. Dalam bayang tiap angan. Mata itu kini tak lagi milikku. Mata itu tak lagi untukku. Mata itu bukan lagi milikku. Tatap itu tak lagi aku. Tapi, satu hal yang perlu di tau “aku bahagia pernah ada dalam mata itu.”
“kemana cinta ini akan ku persembahkan”
“Bila Kesetiaanku hanyalah bagimu kekasihku”
“Sampai kapan ku harus tangisi rindu yang tak terbalas”
Aku penah membacanya dan ku temukan kau dalam sakitku. Ku temukan kau sebagai pelipur laraku. Ku temukan kau dalam setiap doa dan pagiku. Kau yang pernah menjadi harap dalam purukku.

Dan ketika ditaui, tak lagi sama
Karena tak semua cerita selalu berakhir bahagia
Tak semua tawa, indah
Tak semua hati dapat memilih apa yang telah di kehendakinya
.
Alone_in_the_Dark_by_diogomoura

Dan hati itu, kini dipilih oleh siapa pasangan sejiwamya. Hingga tak lagi ada kerling sesaat yang mampu menyelusup larat dalam bentang angan sekarat. Kosong

Hard To Say i’m sory (Chicago)

0

who-cares-when-i-hurt-wallpaper

“Everybody needs a little time away,” I heard her say, “from each other.”
“Even lover’s need a holiday far away from each other.”
Hold me now.
It’s hard for me to say I’m sorry.
I just want you to stay.

After all that we’ve been through,
I will make it up to you. I promise to.
And after all that’s been said and done,
You’re just the part of me I can’t let go.

Couldn’t stand to be kept away just for the day from your body.
Wouldn’t wanna be swept away, far away from the one that I love.

Hold me now.
It’s hard for me to say I’m sorry.
I just want you to know.
Hold me now.
I really want to tell you I’m sorry.
I could never let you go.

After all that we’ve been through,
I will make it up to you. I promise to.
And after all that’s been said and done,
You’re just the part of me I can’t let go.

After all that we’ve been through,
I will make it up to you. I promise to.

You’re gonna be the lucky one.

Aku dan Mataharimu

0

(di sela-sela malam yang lamat mencamat tak beranjak)
Rindu yang membuncah akankah dapat kita keringkan saat pertemuan menjelma?
Kemana angin membawamu malam ini dalam penantian penuh harap?
Ku selusur jelujur tak terukur… Samat menggurat wajah mendendang lara…
Aku dan kenangan kita merindumu, menunggu malam-malam pias yang menjelma tuk menjadi kelabu..
Kelam tanpamu, hingga akhirnya…
Tak ada

156124_524207404264939_835141290_n(1)

Bisikku,
Lihat wajahku
Lihat!
Tatap aku!
Tatap aku malam ini saja…
Karena takkan lagi kau dapatkan gurat wajah yang sama sejurus kemudian..
Wajah yang kau bingkaikan, akankah selalu ada dalam benak saat tak bersama?
Bersua menjadi indah..
Namun berpisah, kita telah pilih jalan yang berbeda..
Ku lalui meski harap penuh ada
Hingga akhirnya kau inginkan tuk rubah jalan itu
Kau inginkan agar tak ada pesakitan kala itu yang membuat pisah
Atau tak adaluka meski selalu bersama
Tak Ada

Tinggalah aku di sini yang selalu menanti hari membuka pagi dengan seringainya
Tuhan, jangan bawa matahariku bersama awan mendungmu
Tuhan, jangan jadikan hujan menyamarkan kilau matahariku
Tuhan, adakah aku dalam gerak mataharimu?
Tuhan, akankah tetap aku dan mataharimu dalam kisah satu?

22.23
20/12/12

Cahaya

0

(dalam semesta cinta)
Di banding pedih angan di musim dingin
Atau keling dan kelamin yang menggali hangat dalam tubuh kekasih
Aku lebih butuh kau
Tawaku akan menyala bila terpercik kedip matamu
Alangkah senang berenang dan menyelam hingga hangus di kobar tubuhmu
Aku berkeruh karena bahagia
Andaikata seluruh dirimu adalah neraka
Siang malam aku ingin menciummu
Biar matahari dan bintang-bintang terbakar cemburu
Agar semua darah tidak membeku
cahaya
Andai anggur merah yang lembut ingin ku cecap merah bibirmu
Demi gairahmu menyusur saluran darahku
Menyembur kekal derap kalbu menenap masa kanakku
Kau magma di hatimu yang menjaga hangat hidupku
Tinimbang para pesakitan yang mimpi tentang kebebasan abadi
Atau para nabi yang mengabarkan kebenaran hakiki
Aku lebih perlu kau
Bersama kau aku akan sampai ke hening
Dimana aku bebas bernyanyi tanpa suara, menari tanpa gerak, terbang tanpa sayap
Aku akan mengasihi nasib buruk melebihi nasib baik mencintaiku
Singgahlah ke kata-kataku
Agar puisi ini tak menggigil dalam sepi
Kita bisa bercinta dengan panas sambil membayangkan betapa hidupku akan kelam kalau kau padam
Lelehkan aku dengan lidahmu, luluhkan lelahku
Kandaskan tubuhmu
Kuduskan ruh
Aku debu kelak kembali ke debu
Kita bersama dalam cinta
Menyatu dengan cahaya

Cinta

0

(dalam semesta cinta)
Ijinkan aku menyebutmu cinta
Meski ku tahu kau tak tertampung kata
Kau senyum ku semat sebelum dan sesudah kalimat
Lebih purba, lebih purna daripada alam semesta
Jika ada cahaya dalam sabdamu, terangi aku
Agar hadirku nyata, cahaya bagi cinta bagai kosa kata
Mengubah yang tiada menjadi ada
Jika ada udara dalam fatwamu, nafasi aku
Biar jantung bersenandung, darah di dada dingin menari
Naluri dan pikir bersyair hingga waktu berakhir
cinta
Jika ada tanah dalam titahmu, kubur aku
Sampai luruh seluruh tubuh, bagai baju lusuh tak di butuh
Ketika kau, aku menyatu demi tunas baru yang bakal tumbuh
Jika ada air dalam kalammu, karamkan aku
Bagaikan ikan dilautan, hidupku dari kasihmu
Bagaimana mungkin aku ukur luas dan dalammu
Jika ada api dalam katamu, kepulkan aku
Aku asap dari apimu sebelum melayang hilang
Meliuk aku ke langit kelabu sebagai tanda adamu
Jika ada aku dalam hatimu, jagai aku
Adaku karena adamu
Adamu karena adaku

Ruang

0

cangkir ruang
Aku ceruk cangkir yang membayangkan kau sebagai kopi di pagi hari,
lingkar kalung yang merindu jenjang lehermu,
lubang baju yang butuh merengkuh tubuh

Kau greonggang rahang yang mengulum kelu lidahku,
rongga dada yang menampung paru dan jantung
lurung urat biru yang mengaruskan deru darahku

Aku cekung cangkang yang menginginkan kau menjadi kerang,
lengkung langit andaikan kau gugusan planet,
luas lautan manakala kau pepunuk pulau

Kau bidang padang mengerang gersang jika aku bukan rimbun pohonan,
kitab yang mengutip kisah kesiapku kala pertama kuintip wajah kekasih,
manik mata yang mendekap dunia, kakus yang tulus menadah limbah

Aku rangkum rahim di mana kau dulu mukim, rentang tangan yang selalu
menjagamu, kubebaskan kau bergerak dan berbiak dalam diriku
Aku kosong abadi yang menghendaki kau sebagai isi

Aku penuh oleh kau yang tak membiarkanku menghampar hampa
Aku takjub pada hidup yang berdegup, cinta yang bergema